RSS
Write some words about you and your blog here

10 Juli 2015



Untuk laki-laki yang di hari ulangtahunnya yang ke-29 udah tidur dari jam setengah sepuluh malam. 
 
Mungkin semakin bertambahnya usia seseorang, semakin aneh hal yang diminta di hari ulangtahunnya. Alih-alih meminta kado gundam atau tiket ke legoland, kamu malah meminta kursus pajak singkat 1 hari menjelang ulangtahunmu. Jangan tanya kalo aku jadi kamu, aku bakalan minta kado baju biyan yang digantung manis di Pasific Place yang harganya bisa buat makan, ongkos, pulsa, beli es krim 10 liter, dan pijat reflexi aku di Nano selama 1 bulan full. Hahaha.

29 tahun sayang. Silahkan merenungi dan mensyukuri apa aja yang telah kamu capai dan kamu dapatkan selama ini. Semoga dengan begitu kamu akan termotivasi untuk menggapai pencapaian yang lebih tinggi lagi. Dan semoga dengan begitu kamu akan terus ingat betapa Tuhan begitu baik sama kamu selama ini.

Buat kamu, selamat ulang tahun. Semoga hari – hari yang akan kamu lewati ke depan selalu penuh berkah. Tahun depan kita rayain bareng berdua ya. Nanti aku bikinin cheese cake kesukaan kamu. Tapi kalo gagal, aku beliin cheese cake di harvest aja gak papa kan? ;)

Peluk.Cium.Cinta
Aku.

Celingak-Celinguk

Selamat malam dan selamat menunaikan skripsi bagi yang menunaikan,
Membuka blog ini kembali setelah postingan terakhir bulan januari rasanya kayak kembali ke kamar sendiri abis pergi jauh ke turki, nuntut ilmu di hawai, balik lagi ke kazakhstan, kelempar ke kober, sampe akhirnya ngesot-ngesot balik ke rumah. Ada perasaan asing namun rindu. Kalau blog ini adalah kamar, pasti sudah menjadi kamar yang berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba setelah ditinggal pemiliknya. Ke mana saya? Tangan udah gatel pengen nulis ke mana aja boleeee tapi gak kok, gak bakal nulis itu *padahal udah ditulis*. 5 bulan dari terakhir posting tulisan di blog, bukan berarti saya berhenti menulis. Nulis tetep kok, tapiiiii nulisnya di tempat lain dan tulisannya bukan sesuatu yang nyaman untuk dibaca di blog. Sebut saja tulisan saya selama 5 bulan ini bernama skripsi. Jujur, nulis skripsi sangat jauh dari kata menyenangkan bagi saya. Banyakan nangisnya. Banyakan aturannya juga. Kutipan 40 kata berapa spasilah, kalo 1000 kata berapa spasilah, ini diketik miring, itu ngetiknya setengah lurus setengah miring. Itu siapa sih yang bikin aturan di pedoman skripsi? Berisik amat! Tapi yaudahlaahh, yang waras ngalah.
Skripsi membuat saya sadar akan kekurangan saya: saya bukan orang yang sistematis dalam mengerjakan suatu hal. Sebenernya ini udah keliatan dalam kebiasaan sehari-hari. Katakanlah saya mau membereskan kamar. Saya selalu kebingungan mau membereskan bagian mana dulu. Akhirnya semua barang saya saya amprok-amprokin dulu di lantai, pasang sprei, masuk-masukin baju ke lemari, sampe akhirnya saya kelelahan terlebih dahulu sebelum kamar beres. Skripsi ini juga begitu. Saya selalu kebingungan mau memasukkan apa saja ke dalam tulisan saya. Sampai akhirnya saya masuk-masukKan semua yang saya bisa masukkan tanpa memikirkan urutan penulisan dan sebagainya. Pembimbing saya sampai bilang "yang di otak kamu tuh ada banyak tapi ibarat puzzle, kamu awur-awurin begitu aja belum disusun dengan rapih" ya sampai segitu parahnya sampai pembimbing skripsi saya menyadarinya. Ah, semoga calon suami saya gak baca postingan saya ini, Tuhan. Ngebayangin kalo nanti udah nikah, niatnya mau nata rumah biar cantik malah jadinya mindahin bencana alam ke dalam rumah. Eh, jadi ngomongin nikah. Udah ah, ntar galau gak punya pacarnya kumat.
Mengingat perjalanan mengerjakan skripsi dari awal sampai sekarang, seperti melihat perjalanan selama 3 dekade. Gimana skripsi ini dimulai dari jaman MBRC masih sepi karena libur semester ganjil, rame begitu masa liburnya berakhir, sampe sekarang sepi lagi karena udah masuk masa libur lagi. Dari mulai MBRC tutup jam 7 malem, tutup sebulan, sampe tutup jam 4 sore, saya melaluinya dalam tahap pengerjaan skripsi. Yang herannya, saat mahasiswa yg kuliah udah libur lagi, saat perpustakaan udah berubah seperti sekarang, skripsi ini belum rampung juga. Ada apa sih dengan skripsi ini?
Eh jam berapa sih ini? Tidur dulu ah *ngegantung gini sih endingnya? ga enak* hahaha. Semoga waktu saya ngeposting blog lagi, status saya sudah berubah dari mahasiswa menjadi pengangguran. Doakan :)
Good Night..

So This Is The New Year


"This New Years Eve,
I'm waiting for tomorrow.
My heart is on my sleeve, and yes I still believe,
this New Years Eve, will turn out better than before,
I'm holding on, still holding out"

-New Years Eve- FIVE IRON FRENZY-


Oke, gw akui ini sedikit telat, tapi gw ucapkan SELAMAT TAHUN BARU dan selamat mewujudkan resolusi-resolusi yang sudah dibuat sebelumnya. Yang gak punya resolusi juga selamat tahun baru ya! Toh kadang-kadang resolusi dibuat hanya untuk dipajang di timeline twitter, kemudian diingkari, dan berakhir sebagai sesuatu yang terlupakan. Bagi yang punya resolusi yang serius, siap beresolusi berarti siap pula untuk gagal. Karena kadang, semakin kita menginginkan sesuatu semakin kita tidak mendapatkannya. Bagi gw sendiri, resolusi bukanlah hal yang identik dengan tahun baru. contohnya resolusi gw di lebaran kemaren, ulangtahun gw yg ke-21, dan di taun baru ini sama persis.


10 September 2010 (Lebaran yang juga hari ulangtahun sahabat gw)

Lebaran taun depan gw harus udah jadi sarjana

3 Oktober 2010 (Ulangtahun gw yang ke...18. Oke oke, 21 lebih tepatnya)

gw harus udah jadi sarjana di umur 21 ini

1 Januari 2011 (tahun baru masehi lah)

taun ini gw harus lulus. agustus wisuda. titik.

Dan ya, hanya sebatas itu gw memaknai tahun baru. Kalaupun ada resolusi-resolusi lain kayak 'mau rajin olahraga' 'mau rajin solat' 'mau jadi anak baik', gw rasa gak harus nunggu taun baru buat mewujudkannya. Jadi kenapa harus tahun baru? Mungkin karena manusia butuh momentum untuk memulai melakukan sesuatu dan tahun baru dirasa tepat untuk dijadikan momentum itu. Tapi gw percaya, gak perlu nunggu bumi sukses mengelilingi matahari sekali lagi untuk menjadi lebih baik. Toh ada 365 hari yang ada di kalender. 1 Januari cuma 24 jam dari 8760 jam yang ada setiap tahunnya. 24 jam itupun belum dipotong tidur sampe siang abis malem tahun baruan dan tidur malamnya. Jadi, justru 1 Januari itu tanggal yang gak produktif bukan?

"So this is the new year.
And i don't feel any different.
The clanking of crystal
Explosions off in the distance (in the distance).

So this is the new year

And I have no resolutions
For self assigned penance

For problems with easy solutions"

-The New Year-DEATH CAB FOR CUTIE-


-6 Januari 2011-

Lupakan Engkau-Audy

Lupakan engkau ada Dia
yang mengasihi dirimu.
Lupakan engkau ada Dia
yang setia menemanimu.

Di saat engkau terjatuh
terhempas tenggelam,
dalam pahitnya kenyataan,
yang menimpa hidupmu.


...dan sekarang saya terhempas dan duduk sendirian.

Pagi Buta di Kantor AJC

Sebulan ini saya punya rutinitas baru: bangun jam 5.50, mandi kalo sempet, sikat gigi, nunggu Mas No di depan komplek, tidur ayam di mobil kantor, sampai kantor jam 7 teng, absen (saya selalu yang pertama absen), buka komputer server, sarapan di depan komputer, kerja palsu, nunggu dikasih kerjaan, dan nunggu diusir Mas Riza buat ke Astari. Well, this is it: MAGANG!
Saya hapal betul, lampu kantor selalu nyala jam 7.20. Orang yang datang habis saya adalah Mas Irfan lalu Mbak Anita. Dan nanti jam 8 teng orang-orang mulai pada rame masuk.
Magang bagi saya adalah salah satu cara untuk terjun ke bumi dari pelajaran-pelajaran semu dan mengawang-awang di bangku kuliah. Salah satu cara juga untuk memahami capeknya mencari uang. Dan di sini gak ada yang peduli kita anak UI atau anak presiden sekalipun. Yang dilihat adalah kerjaan kita bagus atau enggak. Jujur, kerjaan gw acakadut.
Biar gimanapun, saya suka tempat magang saya ini. Bersyukur sekali dapat kantor yang bagus, senior yang baik (dan ada juga yg ehem, rese -,-'), mobil kantor yang bisa ditebengin tiap pagi-sore, ada teman magang dari kampus, dan banyak lagi. Komsekuensinya adalah saya harus memberikan kontribusi terbaik saya untuk tempat magang saya ini, terlebih saya harus belajar bekerja keras untuk saya sendiri.


14 Juni 2010 jam 7.43,
komputer server.

Saat sudah tidak ada sisa-sisa malam untuk bermimpi, saat itu kita harus belajar berdiri pada kenyataan

Kadang kala kenyataan bertolak belakang dengan mimpi kita semalam. Kita tinggal memilih untuk lebih mempercayai yang mana. Seringkali saya lebih mempercayai mana saja yg lbh indah, dan frekuensi mimpilah yang lebih dominan. TerNYATA pilihan saya salah, NYATAnya saya tidak hidup dalam mimpi, NYATAnya tiap pagi saya terbangun pada KENYATAAN. Saat seperti ini saya teringat teman-teman saya yang laki-laki. Mereka selalu berkata pada saya untuk hidup pada apa yang saya lihat nyata-nyata di depan mata saya. Satu berkata pada saya, 'sekarang jalannya ya kayak gini. Nantinya kayak apa, ya liatnya nanti aja.' Aah, saya rindu teman saya yang ini.
Selama ini saya selalu membagun mimpi saya, kadang-kadang saya lebih banyak membangun mimpi itu ketimbang bertindak bagaimana membangun masa depan saya. Sekarang saat mimpi yang sudah saya bangun itu berdiri utuh dalam bentuk maket-maket, apa yang harus saya lakukan? Pasti teman saya akan menyuruh saya membuang maket-maket itu. Kali ini sepertinya saya harus setuju pada teman saya itu.

Mengukur jarak

Selamat dini hari. Kemarin sore saya berbincang dengan teman saya. Saya ajak dia pergi ke suatu kota yang jaraknya kira-kira 700km dari Jakarta. Saya bilang, 'kita berangkat bareng, nanti sampai sana kita pisah. Kita cari kebahagiaan kita masing-masing.' Sebenarnya saya bilang seperti itu antara bercanda dan tidak. Namun dalam mencari kebahagiaan masing-masing di sana, saya tidak bercanda. Tapi ternyata konsep mencari kebahagiaan di sana tidaklah realistis, lebih tepatnya: saya sangat ragu di sana ada kebahagiaan yang tersedia untuk saya. Lalu saya mencoba memperpendek jarak dan berpikir, 30km dari sini apakah tidak ada kebahagiaan untuk saya? Kalau tidak ada, saya coba memperpanjang jarak, 1200km. Lagi-lagi saya berpikir, bisakah ini menjadi jarak tepat untuk mendapat kebahagiaan itu? Setelah terjebak oleh jarak-jarak itu, saya mencoba untuk membumi. Mempertanyakan konsep kebahagiaan yang saya cari. Lama saya berpikir, dan ternyata saya tidak mempunyai konsep kebahagiaan yang jelas sama sekali. Jadi percuma saya pergi sejauh apapun. Pergi ke kota manapun, kalau kita tidak tau apa yang kita cari, mana mungkin kita mendapatkannya. Mungkin 20m dari tempat saya duduk sekarang ini sebenarnya tercecer kebahagiaan namun saya tidak pernah memungutnya karena saya tidak pernah tau. Jadi, mengukur jarak sebenarnya akan menjadi percuma dan sia-sia. (Di luar masih sangat gelap, namun jarum jam nyaris menyentuh angka 4), sebentar lagi keributan pagi akan dimulai. Saya ingin meniduri sisa-sisa gelap ini terlebih dulu, selamat dini hari lagi!